Pendidikan Moral Melalui Seni
Seni Harus Bangun Moral Bangsa
Pelarangan Muncul karena Kesalahpahaman Pandangan terhadap Sebuah Karya
Yogyakarta, Kompas - Karya seni harus benar-benar bisa dimanfaatkan untuk membangun moral bangsa. Seni yang mencerahkan moral bangsa ini tidak hanya dibuat untuk tujuan seni, tetapi juga untuk memperbaiki kemerosotan moral masyarakat. Namun, tidak semua karya seni bisa dimanfaatkan membangun bangsa sehingga masyarakat perlu melakukan seleksi.
"Seni yang diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat adalah seni yang punya tendensi. Melalui ide gagasannya, seniman bisa menyampaikan suatu pesan moral," ujar Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Zamzani di sela-sela seminar nasional "Peran Seni Budaya dalam Membangun Moral Pemuda Bangsa", Kamis (29/11).
Menurut Zamzani, bangsa Indonesia juga mulai dewasa dalam memilah karya seni. Karya seni pertunjukan fiksi, misalnya, tidak langsung ditelan secara mentah-mentah. Kekayaan nilai moral terutama bisa ditemukan pada seni tradisional. "Selalu penuh nilai ajaran yang simbolik, jarang yang diungkapkan secara langsung," katanya.
Penyair Madura Zawawi Imron menambahkan, sering kali karya seni disalahpahami oleh masyarakat sehingga memunculkan aksi pelarangan, pencekalan, bahkan pemasungan. Tetapi, justru suatu karya yang dilarang cenderung semakin menarik minat orang untuk menikmati karya tersebut.
Seniman, lanjut Zawawi, harus lebih rendah hati bahwa kesenimanan salah satu sektor dari pengabdian kepada kemanusiaan. "Kebebasan dan pemberian ruang yang luas kepada karya kreatif adalah penghargaan kepada kemanusiaan. Dalam iklim berkesenian yang sehat, biar seniman sendiri yang mencekal dirinya karena dia sendiri yang tahu untuk berbuat dan tidak berbuat," tuturnya.
Perubahan
Budaya Yogyakarta, lanjut Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta Condroyono, telah mengalami perubahan sejalan dengan dinamika sistem kehidupan sosial masyarakat. Kebudayaan hadir karena adanya kehidupan sosial manusia. Bahkan, kebudayaan oleh sosiolog Koentjoroningrat dikelompokkan menjadi tiga, kompleks gagasan, aktivitas, dan hasil karya.
Tidak semua perubahan yang terjadi di masyarakat berakibat pada perubahan sosial. Namun, perubahan sistem pemerintahan dari sistem Kasultanan Ngayogyakarta menjadi Provinsi DIY telah membawa akibat pada perubahan sistem kehidupan sosial.
"Pengaruh perubahan lewat penetrasi budaya harus disikapi secara sistemik komprehensif melalui sistem kehidupan sosial yang dimulai dari keluarga, masyarakat, sampai ke sistem pendidikan yang diberlakukan," kata Condroyono. (WKM)
