tabel teman
|
NAma Teman |
Alamat |
telp |
kota |
| Naily N | Pacar | 0285 6534234 | pekalongan |
| Tri Puji | Bener | 0285 3242347 | tegar |
|
NAma Teman |
Alamat |
telp |
kota |
| Naily N | Pacar | 0285 6534234 | pekalongan |
| Tri Puji | Bener | 0285 3242347 | tegar |
Situasi kesastraan Indonesia terkini berkembang cukup menarik. Salah satunya adalah tentang peran komunitas sastra. Selain media massa, komunitas sastra dewasa ini memiliki peran yang sangat besar dalam menumbuh-kembangkan kesastraan Indonesia. Banyak sekali penulis Indonesia terkini yang lahir dan dibesarkan oleh komunitas sastra. Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dapat disebut sebagai wadah komunitas sastra yang banyak melahirkan serta turut membesarkan pengarang-pengarang Indonesia terkini.
Dengan cabang-cabang yang tersebar di banyak kota besar di Tanah Air dan luar negeri, KSI terus mendorong lahirnya penulis-penulis baru dan ikut menumbuhkan mereka menjadi pengarang-pengarang serta sastrawan andal di Indonesia. Pengarang novel mega bestseller, Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El-Shirazy, misalnya, tidak terlepas dari binaan dan dorongan tokoh-tokoh KSI seperti Ahmadun Yosi Herfanda. Sejumlah kader KSI, Viddy AD Daery, bahkan ikut aktif menggairahkan kehidupan sastra di negeri jiran. Sementara, ketua Yayasan KSI, Wowok Hesti Prabowo, aktif menggairahkan kehidupan sastra di kalangan buruh pabrik. Sedangkan ketua KSI, Iwan Gunadi dan wakilnya, Fatin Hamama, ikut mendorong kegiatan bersastra di kalangan pelajar, mahasiswa dan Pramuka.
Sebagai wadah berkreasi dan berapresiasi sastra, sangat banyak kegiatan KSI, sejak penerbitan buku sastra, hingga seminar, diskusi, work shop penulisan, dan pertunjukan baca puisi, yang ikut mendorong semangat bersastra di berbagai kalangan masyarakat di Tanah Air. Bahkan, ketika bencana-bencana alam melanda Indonesia, dan banyak sastrawan yang ikut menjadi korban, KSI ikut menunjukkan solidaritas sosialnya dengan menggalang dan menyalurkan dana bagi mereka. Terbitnya buku kumpulan puisi 5,9 Skala Richter, misalnya, merupakan bukti abadi solidaritas KSI untuk para korban bencana gempa bumi di DI Yogyakarta dan sekitarnya.
Diakui, memang bukan hanya KSI yang berkiprah untuk meramaikan kehidupan sastra Indonesia. Kita juga patut mengakui peran komunitas-komunitas serta kantong-kantong sastra lain di Tanah Air yang ikut meramaikan kehidupan sastra Indonesia terkini, seperti Forum Lingkar Pena (FLP), Rumah Dunia, Komunitas Utan Kayu (KUK), Asas Bandung, ASA Aceh, Lapena Aceh, Komunitas Cerpen Indonesia (KCI), Komunitas Bunga Matahari, Yayasan Multimedia Sastra (YMS), Forum Sastra Bandung, Keluarga Penulis Kudus (KPK), dan berbagai komunitas serta kantung sastra lain yang tersebar di Tanah Air. Tetapi, KSI, yang lahir dari 12 kantung sastra di Jabodetabek sekitar 11 tahun yang lalu, memiliki peran istimewa karena jaringan dan kepeduliannya pada para pengarang dari kalangan grass root dan pinggiran, seperti para penyair buruh dan penulis daerah yang membutuhkan ‘fasilitas’ untuk dikenal secara nasional.
Di tengah maraknya pertumbuhan komuitas dan kantung sastra dewasa ini, serta maraknya polemik tentang peran komunitas sastra belakangan ini, KSI – juga komunitas-komunitas dan kantung-kantung sastra lain yang memiliki jaringan kerja sama dengan KSI – perlu bertemu untuk merumuskan kembali langkah-langkah strategis ke depan. KSI dan jaringannya juga perlu menata diri kembali agar dapat memberikan sumbangan yang lebih pas bagi public sastra Indonesia. Karena itulah, KSI, bertepatan dengan berakhirnya masa kepengurusan KSI periode 2004-2007, merasa perlu mengadakan kongres dan seminar sastra nasional.
Sesuai dengan perkembangan kehidupan sastra Indonesia terkini, Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) kali ini sengaja mengambil tema Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia. Kongres akan digelar di Gedung DPRD Kudus, Jawa Tengah, pada 19-21 Januari 2008. Acara pokok kegiatan yang didukung penuh oleh Djarum Bakti Pendidikan ini akan berupa kongres KSI, seminar nasional, ceramah umum, orasi budaya, pementasan sastra dan seni, serta wisata budaya.
Kongres KSI akan memilih kepengurusan baru periode 2008-2010, penyusunan program kerja, dan penyampaian rekomendasi yang mencoba merespons kondisi mutakhir kesusastraan Indonesia. Direncanakan, kongres akan dibuka oleh Menbudpar Ir. Jero Wacik, SE*, dengan keynote speaker Mendiknas Dr. Bambang Sudibyo*. Sedangkan orasi budaya dan pemuda akan disampaikan oleh Menpora Dr. Adhyaksa Dault*. Seminar nasionalnya akan menampilkan pembicara Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dr. Dendy Sugono, Prof. Dr. Budi Darma, Arswendo Atmowiloto, Korrie Layun Rampan, Drs. Maman S. Mahayana, MHum, Dr. Eko Budihardjo, Habiburrachman El-Shirazy, MAg, Dr. Shiho Sawai, Drs. Ahmadun Yosi Herfanda, MTI, Drs. Micky Hidayat, Drs. Mukti Sutarman SP, dan Drs. Idris Pasaribu. Seminar akan dimoderatori oleh Kurnia Effendi, Viddy AD Daery, Jimat Kalimasodo, dan Suprapto.
Pementasan karya sastra dan baca puisi akan diisi, antara lain Menpora Adhyaksa Dault*, Direktur Kesenian Depbudpar Surya Yoga*, Direktur Utama RRI Parni Hadi, Direktur Utama Bank Muamalat U. Saefuddin Noer*, Direktur Produksi PT Djarum Kudus Thomas Budhi Santosa, Sutardji Calzoum Bachri, Emha Ainun Nadjib*, Jose Rizal Manua, Sujiwo Tejo, Diah Hadaning, Arie MP Tamba*, Kurnia Effendi, Mustafa Ismail, Chavchay Saefullah, Sihar Ramses Simatupang, Fatin Hamama, Jumari HS, Nuzumul Laily, Bambang Supriadi, Bambang Widiatmoko, Rohadi Noor, dan Anita Retno Lestari. Juga akan diisi pertunjukan wayang klithik dan terbang papat, dua bentuk kesenian tradisional yang sudah langka dari Kudus.
Menurut Ketua KSI, Iwan Gunadi, pada kesempatan itu juga akan diluncurkan buku Perjalanan 12 Tahun KSI, kiprah dan kumpulan karya para aktivisnya. Menurut ketua umum panitia kongres, Wowok Hesti Prabowo, dan ketua pelaksana, Mukti Sutarman SP, acara ini akan diikuti sekitar 200 pelaku sastra, pengurus cabang-cabang di berbagai wilkayah di Indonesia, serta masyarakat Kudus dan sekitarnya. Peserta juga akan mengunjungi pabrik rokok, pabrik jenang, Museum Kretek, dan Menara Kudus.**
Bagaimana memahami keberadaan Allah?
Tumbuhan, binatang, lautan, gunung-gunung, dan manusia disekitar kita, dan semua jasad renik yang tidak kasat mata – hidup ataupun mati, merupakan bukti nyata adanya Kebijakan Agung yang menciptakannya. Demikian pula dengan kesetimbangan, keteraturan dan penciptaan sempurna yang nampak di seluruh jagat. Semuanya membuktikan keberadaan Pemilik pengetahuan agung, yang menciptakannya dengan sempurna. Pemilik kebijakan dan pengetahuan agung ini adalah Allah.
Sistem-sistem sempurna yang diciptakanNya serta sifat-sifat yang mengagumkan pada setiap mahluk, hidup maupun mati, menimbulkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesempurnaan ini tertulis dalam Al-Qur’an:
Dia menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Tak akan ditemui sedikit cacatpun dari ciptaanNya. Perhatikan berkali-kali - apakah engkau melihat kekurangan padanya? Lalu, perhatikanlah sekali lagi. Matamu akan silau dan lelah! (Surat Al-Mulk: 3-4)
Mengapa kita diciptakan?
Dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan mengapa kita diciptakan:
Aku ciptakan jin dan manusia semata-mata untuk menyembahKu. (Surat Az-Zariyat: 56)
Seperti disebutkan dalam ayat ini, keberadaan manusia di bumi ini semata-mata untuk menjadi hamba Allah, untuk menyembahNya dan untuk memperoleh ridhaNya. Penghambaan manusia kepada Allah merupakan batu ujian selama ia hidup di muka bumi
Bagaimana cara mengenal Allah?
Ciptaan yang sempurna di seluruh jagat raya menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Agung.
Allah sendiri telah memperkenalkan diriNya kepada kita melalui Al-Qur’an - wahyu yang diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk yang benar bagi kehidupan. Semua sifat-sifat Allah yang mulia disampaikan kepada kita di dalam Al-Qur’an. Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Meliputi seluruh alam, Maha Melihat dan Maha Mendengar atas segala sesuatu. Dia lah Pemilik dan Tuhan satu-satunya atas langit dan bumi dan segala sesuatu di antaranya. Dia lah penguasa seluruh kerajaan langit dan bumi.
Dialah Allah – tiada tuhan selain Dia. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia lah Allah – tiada tuhan selain Dia. . . . MilikNya segala nama-nama yang baik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hasr: 22-24)
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer