Mencari Nilai Plus Mata Pelajaran Ekstrakurikuler
PENGERTIAN ekstra secara umum mengandung pengertian segala sesuatu yang mempunyai makna berbeda dan mempunyai nilai lebih dari yang biasa. Searah dengan pengertian tersebut, ekstrakulikuler di sekolah merupakan kegiatan yang bernilai tambah yang diberikan sebagai pendamping pelajaran yang diberikan secara intrakulikuler.
EKSTRAKURIKULER — Berbeda dengan sekolah lain, di Madrasah Ahliyah 2 Jl Depaten Lama, pada bidang ekstrakurikuler murid mendapatkan pelajaran di antaranya barzanzi atau bacaan dan tata cara marhaban, tahlilan. Gambar diambil Senin (1/3). (Sripo/sts)
Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan memberi nilai plus bagi siswa selain materi pelajaran seperti yang dimuat di kurikulum yang didapatkan pada proses kegiatan belajar mengajar intrakulikuler.
Sebagai pendamping, kegiatan ekstrakurikuler terdiri dari berbagai jenis pelajaran inti seperti termuat pada kurikulum. Misalnya pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan maka ekstrakulikulernya dapat berupa beladiri, berenang atau palang merah remaja (PMR).
Mengiringi mata pelajaran kesenian, ekstrakulikulernya dapat berupa kelompok paduan suara dan band sekolah, kelompok sanggar seni atau bengkel sastra. Sedangkan mengiringi pelajaran agama, ekstrakulikuler yang diselenggarakan berupa pelatihan membaca Alquran atau bentuk lainnya.
Bahkan beberapa kegiatan ekstrakulikuler tidak hanya mendukung satu mata pelajaran melainkan lebih. Seperti kegiatan kepanduan atau ke-Pramukaan yang tidak hanya pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, keterampilan juga pendidikan kewarganegaraan.
Waktu pemberian materi ekstrakulikuler ini bervariasi sesuai kebutuhan sekolah tersebut, pada hari yang sama dengan hari rutin belajar, di sela jam belajar atau pada hari libur di luar kegiatan belajar-mengajar rutin.
Guru Madrasah Aliyah 2 Palembang sekaligus guru ekstrakulikuler, RM Ansori M, Senin (1/3) mengemukakan beberapa kegiatan ekstrakulikuler dilaksanakan di sekolah yang sudah berdiri sejak sekitar tahun 1920-an.
Empat jenis kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah tersebut yakni olahraga beladiri karate, teater dan pelatihan drama, muhadoroh atau pelatihan berpidato dan ilmu kemasyrakatan. Semua siswa sejak kelas tiga menurutnya dianjurkan mengikuti ekstrakulikuler yang pengaturan jadwalnya setiap hari Rabu sejak pukul 07.30 hingga 12.30 WIB. Jika materi yang diberitakan tidak cukup pada hari itu, diberitakan juga di hari libur.
Khusus ekstrakulikuler ilmu kemasyarakatan menurutnya pihak sekolah memilih kegiatan yang berbasis agama dan budaya di masyarakat. Seluruh siswa peserta ekstrakulikuler menurutnya diajari cara beratib, membaca barzanzi dan bertahlil. Juga pelatihan rodat yakni kesenian yang menggunakan alat terbangan mengiringi beberapa siswa lain yang membawakan tarian sarofal anam.
Dengan ektrakulikuler ilmu kemasyarakatan ini diharapkan setelah lulus dari sekolah, siswa memiliki nilai plus atau keahlian tambahan selain kemampuan akademik. “Beberapa siswa kita yang lulus dua tahun lalu, ada yang sudah bisa memandu acara marhaban di kampung-kampung,” katanya.
Meskipun tidak menjadi pemandu di kegiatan, menurutnya diharapkan siswa lulusan sekolah tersebut dapat ikut serta sekiranya ada kegiatan di kampung. Terlebih penting ekstrakulikuler tersebut untuk melestarikan budaya sehingga tidak kalah dengan budaya komtemporer dan modern.
Saat kegiatan ektrakulikuler seluruh siswa menggunakan pakaian sesuai ektrakulikuler yang dipilih. Misalnya siswa peserta barzanzi menggunakan kain sarung. Juga sejumlah guru yang memberikan ekstrakulikuler juga menggunakan pakaian yang sesuai dengan kegiatan.
Direktur Umum Ma’had Izzudin, Ir Salihul Fajri Muchir kemarin mengemukakan di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Izzuddin pihaknya memiliki berbagai kegiatan ekstrakulikuler. Semua kegiatan menurutnya dilakukan hari Sabtu ketika siswa sekolah libur. Dua kegiatan ekstrakulikuler yakni ke-pramukaan dan berenang telah diintegrasikan pada kurikulum dan menjadi mata pelajaran intrakulikuler. Selain itu pihaknya memiliki beberapa ekstrakulikuler lain yakni olahraga beladiri taekwondo, pelatihan tahsin dan tahfiz yakni cara memperbaiki bacaan dan menghafal Al Quran. Juga pelatihan cara berhitung dengan menggunakan metode sempoa. (van)
Sebagai Ciri Khas Sekolah
KEGIATAN ekstrakurikuler sekolah tidak hanya pelengkap suatu proses kegiatan belajar-mengajar, melainkan sarana agar siswa memiliki nilai plus selain pelajaran akademis yang bermanfaat bagi kehidupannya bermasyarakat. Dalam praktiknya pelajaran ekstrakurikuler ini seringkali menjadi ciri khas suatu sekolah.
Seperti dikemukakan Direktur Umum Ma’had Izzuddin, Ir Salihul Fajri Muchir sesuai karakter SDIT Izzuddin berbasis keagamaan maka ekstrakurikuler diupayakan memiliki ciri ke-Islaman dengan berdasar Alquran dan Hadist.
“Seperti berenang pelajaran ini penting dan memang ada hadist yang mengemukakan agar setiap anak diajari berenang,” katanya ditemui di SDIT Izzuddin, Jl Demang Lebardaun, Senin (1/3).
Sejak tahun ajaran 2003-2004 menurutnya juga diselenggarakan ekstrakurikuler tahsin dan tahfiz (pelajaran memperbaiki bacaan Alquran dan menghafal Alquran). Untuk dua ekstrakurikuler ini selain dibimbing guru, sejumlah sekolah menurutnya juga dibimbing tenaga pengajar dari luar.
Kedua ekstrakurikuler ini ditujukan bagi siswa yang memang memiliki kemampuan menghafal di atas rata-rata. Sejak didirikan dua tahun lalu menurutnya beberapa siswa SDIT sudah mampu menghafal setengah juz Alquran.
“Tahsin dan tahfidz ini memang ciri khas SDIT. Target kita setamatnya mereka dari SDIT siswa sudah hafal 2-3 juz Alquran,” katanya. Sembari menambahkan untuk memacu semangat siswa dalam tahsin dan tahfidz maka tenaga pengajar juga diberikan kegiatan ekstra untuk tahsin dan tahfidz.
Kegiatan ekstrakurikuler tahsin dan tahfidz ini menurutnya sebagai langkah antisipasi agar generasi mendatang tidak buta pada Alquran. (van)
