Ayat-Ayat Allah

May 24, 2008

Merespon Situasi Terkini Merespon Situasi Karya Sastra di Indonesia

Filed under: sastra

   
Situasi kesastraan Indonesia terkini berkembang cukup menarik. Salah satunya adalah tentang peran komunitas sastra. Selain media massa, komunitas sastra dewasa ini memiliki peran yang sangat besar dalam menumbuh-kembangkan kesastraan Indonesia. Banyak sekali penulis Indonesia terkini yang lahir dan dibesarkan oleh komunitas sastra. Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dapat disebut sebagai wadah komunitas sastra yang banyak melahirkan serta turut membesarkan pengarang-pengarang Indonesia terkini.

Dengan cabang-cabang yang tersebar di banyak kota besar di Tanah Air dan luar negeri, KSI terus mendorong lahirnya penulis-penulis baru dan ikut menumbuhkan mereka menjadi pengarang-pengarang serta sastrawan andal di Indonesia. Pengarang novel mega bestseller, Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El-Shirazy, misalnya, tidak terlepas dari binaan dan dorongan tokoh-tokoh KSI seperti Ahmadun Yosi Herfanda. Sejumlah kader KSI, Viddy AD Daery, bahkan ikut aktif menggairahkan kehidupan sastra di negeri jiran. Sementara, ketua Yayasan KSI, Wowok Hesti Prabowo, aktif menggairahkan kehidupan sastra di kalangan buruh pabrik. Sedangkan ketua KSI, Iwan Gunadi dan wakilnya, Fatin Hamama, ikut mendorong kegiatan bersastra di kalangan pelajar, mahasiswa dan Pramuka.

Sebagai wadah berkreasi dan berapresiasi sastra, sangat banyak kegiatan KSI, sejak penerbitan buku sastra, hingga seminar, diskusi, work shop penulisan, dan pertunjukan baca puisi, yang ikut mendorong semangat bersastra di berbagai kalangan masyarakat di Tanah Air. Bahkan, ketika bencana-bencana alam melanda Indonesia, dan banyak sastrawan yang ikut menjadi korban, KSI ikut menunjukkan solidaritas sosialnya dengan menggalang dan menyalurkan dana bagi mereka. Terbitnya buku kumpulan puisi 5,9 Skala Richter, misalnya, merupakan bukti abadi solidaritas KSI untuk para korban bencana gempa bumi di DI Yogyakarta dan sekitarnya.

Diakui, memang bukan hanya KSI yang berkiprah untuk meramaikan kehidupan sastra Indonesia. Kita juga patut mengakui peran komunitas-komunitas serta kantong-kantong sastra lain di Tanah Air yang ikut meramaikan kehidupan sastra Indonesia terkini, seperti Forum Lingkar Pena (FLP), Rumah Dunia, Komunitas Utan Kayu (KUK), Asas Bandung,  ASA Aceh, Lapena Aceh, Komunitas Cerpen Indonesia (KCI), Komunitas Bunga Matahari, Yayasan Multimedia Sastra (YMS), Forum Sastra Bandung, Keluarga Penulis Kudus (KPK), dan berbagai komunitas serta kantung sastra lain yang tersebar di Tanah Air. Tetapi, KSI, yang lahir dari 12 kantung sastra di Jabodetabek sekitar 11 tahun yang lalu, memiliki peran istimewa karena jaringan dan kepeduliannya pada para pengarang dari kalangan grass root dan pinggiran, seperti para penyair buruh dan penulis daerah yang membutuhkan ‘fasilitas’ untuk dikenal secara nasional.

Di tengah maraknya pertumbuhan komuitas dan kantung sastra dewasa ini, serta maraknya polemik tentang peran komunitas sastra belakangan ini, KSI – juga komunitas-komunitas dan kantung-kantung sastra lain yang memiliki jaringan kerja sama dengan KSI – perlu bertemu untuk merumuskan kembali langkah-langkah strategis ke depan. KSI dan jaringannya juga perlu menata diri kembali agar dapat memberikan sumbangan yang lebih pas bagi public sastra Indonesia. Karena itulah, KSI, bertepatan dengan berakhirnya masa kepengurusan KSI periode 2004-2007, merasa perlu mengadakan kongres dan seminar sastra nasional. 

Sesuai dengan perkembangan kehidupan sastra Indonesia terkini, Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) kali ini sengaja mengambil tema Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia. Kongres akan digelar di Gedung DPRD Kudus, Jawa Tengah, pada 19-21 Januari 2008. Acara pokok kegiatan yang didukung penuh oleh Djarum Bakti Pendidikan ini akan berupa kongres KSI, seminar nasional, ceramah umum, orasi budaya, pementasan sastra dan seni, serta wisata budaya.

Kongres KSI akan memilih kepengurusan baru periode 2008-2010, penyusunan program kerja, dan penyampaian rekomendasi yang mencoba merespons kondisi mutakhir kesusastraan Indonesia. Direncanakan, kongres akan dibuka oleh Menbudpar Ir. Jero Wacik, SE*, dengan keynote speaker  Mendiknas Dr. Bambang Sudibyo*. Sedangkan orasi budaya dan pemuda akan disampaikan oleh Menpora Dr. Adhyaksa Dault*. Seminar nasionalnya akan menampilkan pembicara Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dr. Dendy Sugono, Prof. Dr. Budi Darma, Arswendo Atmowiloto, Korrie Layun Rampan, Drs. Maman S. Mahayana, MHum, Dr. Eko Budihardjo, Habiburrachman El-Shirazy, MAg, Dr. Shiho Sawai, Drs. Ahmadun Yosi Herfanda, MTI, Drs. Micky Hidayat, Drs. Mukti Sutarman SP, dan Drs. Idris Pasaribu. Seminar akan dimoderatori oleh Kurnia Effendi, Viddy AD Daery, Jimat Kalimasodo, dan Suprapto.

Pementasan karya sastra dan baca puisi akan diisi, antara lain Menpora Adhyaksa Dault*, Direktur Kesenian Depbudpar Surya Yoga*, Direktur Utama RRI Parni Hadi, Direktur Utama Bank Muamalat U. Saefuddin Noer*, Direktur Produksi PT Djarum Kudus Thomas Budhi Santosa, Sutardji Calzoum Bachri, Emha Ainun Nadjib*, Jose Rizal Manua, Sujiwo Tejo, Diah Hadaning, Arie MP Tamba*, Kurnia Effendi, Mustafa Ismail, Chavchay Saefullah, Sihar Ramses Simatupang, Fatin Hamama, Jumari HS, Nuzumul Laily, Bambang Supriadi, Bambang Widiatmoko, Rohadi Noor, dan Anita Retno Lestari. Juga akan diisi pertunjukan wayang klithik dan terbang papat, dua bentuk kesenian tradisional yang sudah langka dari Kudus.

Menurut Ketua KSI, Iwan Gunadi, pada kesempatan itu juga akan diluncurkan buku Perjalanan 12 Tahun KSI, kiprah dan kumpulan karya para aktivisnya. Menurut ketua umum panitia kongres, Wowok Hesti Prabowo, dan ketua pelaksana, Mukti Sutarman SP, acara ini akan diikuti sekitar 200 pelaku sastra, pengurus cabang-cabang di berbagai wilkayah di Indonesia, serta  masyarakat Kudus dan sekitarnya. Peserta juga akan mengunjungi pabrik rokok, pabrik jenang, Museum Kretek, dan Menara Kudus.**

 

                                                                      

 

Pemerintah Indonesia gagal, menurut mahasiswa indonesia

Filed under: Pemerintahan

    Menurut Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, tujuan dibentuknya Pemerintah Negara Indonesia adalah untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”. Rupanya kabut asap asal Indonesia yang melanda beberapa negara tetangga, menurut para mahasiswa yang menuntut ilmu di sana, menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia telah gagal melaksanakan tujuannya.

Perkumpulan Pelajar Indonesia di Malaysia dan Singapura (Perpimas) kemarin (Jumat, 06/10) mengeluarkan pernyataan yang isinya menyayangkan pemerintah Indonesia yang lamban dalam menganggapi pembakaran lahan yang marak terjadi di pulau Sumatra. Menurut ketua Perpimas, Jaka Sulistiana, “Kami merasa Pemerintah Indonesia telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pemerintah karena Pemerintah Indonesia tidak mampu melindungi rakyatnya sendiri dan malah mengganggu ‘ketertiban dunia’ dengan mengekspor asap yang jelas-jelas mengganggu kesehatan.”

Dalam pernyataannya, Perpimas juga menyatakan bahwa dengan tidak menindak tegas para pembakar lahan, pemerintah telah memperburuk citra bangsa Indonesia di mata negara tetangga. Untuk mendukung pernyataan itu, Perpimas telah melakukan survey terhadap warga Malaysia dan Singapura. Hasilnya, banyak dari mereka yang membenci Indonesia sejak kabut asap mulai menutupi kedua negara jiran.

Menurut pernyataan tersebut, “Karena banyak dari mereka di sini yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap dari Indonesia, masyarakat mulai berpikir bahwa semua orang Indonesia adalah pembakar lahan dan tidak peduli lingkungan. Terus terang, kami malu dengan tindakan para pembakar lahan di Sumatra dan pemerintah yang tidak mampu menanganinya.”

Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa selain tidak mampu lagi melindungi warga negaranya, pemerintah juga membahayakan masa depan bangsa Indonesia dengan merusak generasi muda. Jaka yang membacakan pernyataan tersebut menjelaskan bahwa banyak anak-anak, terutama di daerah yang tertutup asap pekat, menderita gangguan pernapasan. Bukan hanya itu, “Lihat saja kami yang jauh-jauh menuntut ilmu ke Malaysia dan Singapura. Ini semua kan demi memajukan bangsa. Bukannya berterima kasih atau paling tidak mendukung, pemerintah malah mengirim asap untuk mengganggu belajar kami.”

Karena itulah Perpimas mendesak pemerintah untuk menindak para pembakar lahan secepatnya dan menghentikan pembakaran lahan dengan cara apapun. “Jangan sampai setelah dicap bangsa koruptor, Indonesia dicap sebagai bangsa yang tidak ramah lingkungan. Itu bisa saja terjadi mengingat selain pembakaran lahan, kita juga dengan bangga memiliki genangan lumpur terbesar di dunia,” menurut pernyataan tersebut sambil menyebut bencana yang melanda Sidoarjo.


Sentimen negatif

MerahPutih melakukan survey di wilayah Orchard Road, Singapura yang terkenal itu. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat Singapura dan bahkan turis-turis asing memiliki sentimen negatif terhadap Indonesia sebagai bangsa dan negara.

Screw (persetan dengan -red) Indonesia!” ujar seorang turis asal Hong Kong penuh kemarahan. Ia telah merencanakan liburan ke Singapura sejak lama, tetapi yang didapatinya ketika sampai ke negara pulau tersebut hanyalah asap.

Seorang turis Indonesia mengaku bahwa ia merasa tidak nyaman berbelanja di Orchard Road, “Banyak orang berkomentar yang jelek tentang Indonesia.”

BAKSO BAKAR

Filed under: Ijip_Ijip

   


Bahan :
600 gr daging sapi cincang
100 gr tepung sagu
1 butir telur
tusukan sate secukupnya
1 liter air, untuk merebus

Haluskan,
3 siung bawang putih
1 sdm merica halus
½ sdt pala halus
¼ sdt kaldu padat rasa sapi
garam secukupnya

Olesan, aduk rata:
5 sdm kecap manis
5 sdm mentega cair

Pelengkap:
4 buah lontong, iris melintang tipis
Sambal kacang, siap saji
Acar timun secukupnya

Cara Membuat :
Baso: Campur semua bahan baso, kecuali air, bersama bumbu halus, aduk rata. Didihkan air. Masukkan baso, masak sampai matang dan mengapung. Angkat, tiriskan. Tusuk dengan tusukan sate, bakar sambil terus dioles diatas bara apim hingga kecokelatan, angkat. Sajikan bersama pelengkap.

Untuk: 4 porsi

Sumber : Tabloid Wanita Indonesia


Pendidikan Moral Melalui Seni

Filed under: Moral

   

Seni Harus Bangun Moral Bangsa
Pelarangan Muncul karena Kesalahpahaman Pandangan terhadap Sebuah Karya

 

Yogyakarta, Kompas - Karya seni harus benar-benar bisa dimanfaatkan untuk membangun moral bangsa. Seni yang mencerahkan moral bangsa ini tidak hanya dibuat untuk tujuan seni, tetapi juga untuk memperbaiki kemerosotan moral masyarakat. Namun, tidak semua karya seni bisa dimanfaatkan membangun bangsa sehingga masyarakat perlu melakukan seleksi.

"Seni yang diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat adalah seni yang punya tendensi. Melalui ide gagasannya, seniman bisa menyampaikan suatu pesan moral," ujar Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Zamzani di sela-sela seminar nasional "Peran Seni Budaya dalam Membangun Moral Pemuda Bangsa", Kamis (29/11).

Menurut Zamzani, bangsa Indonesia juga mulai dewasa dalam memilah karya seni. Karya seni pertunjukan fiksi, misalnya, tidak langsung ditelan secara mentah-mentah. Kekayaan nilai moral terutama bisa ditemukan pada seni tradisional. "Selalu penuh nilai ajaran yang simbolik, jarang yang diungkapkan secara langsung," katanya.

Penyair Madura Zawawi Imron menambahkan, sering kali karya seni disalahpahami oleh masyarakat sehingga memunculkan aksi pelarangan, pencekalan, bahkan pemasungan. Tetapi, justru suatu karya yang dilarang cenderung semakin menarik minat orang untuk menikmati karya tersebut.

Seniman, lanjut Zawawi, harus lebih rendah hati bahwa kesenimanan salah satu sektor dari pengabdian kepada kemanusiaan. "Kebebasan dan pemberian ruang yang luas kepada karya kreatif adalah penghargaan kepada kemanusiaan. Dalam iklim berkesenian yang sehat, biar seniman sendiri yang mencekal dirinya karena dia sendiri yang tahu untuk berbuat dan tidak berbuat," tuturnya.

Perubahan

Budaya Yogyakarta, lanjut Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta Condroyono, telah mengalami perubahan sejalan dengan dinamika sistem kehidupan sosial masyarakat. Kebudayaan hadir karena adanya kehidupan sosial manusia. Bahkan, kebudayaan oleh sosiolog Koentjoroningrat dikelompokkan menjadi tiga, kompleks gagasan, aktivitas, dan hasil karya.

Tidak semua perubahan yang terjadi di masyarakat berakibat pada perubahan sosial. Namun, perubahan sistem pemerintahan dari sistem Kasultanan Ngayogyakarta menjadi Provinsi DIY telah membawa akibat pada perubahan sistem kehidupan sosial.

"Pengaruh perubahan lewat penetrasi budaya harus disikapi secara sistemik komprehensif melalui sistem kehidupan sosial yang dimulai dari keluarga, masyarakat, sampai ke sistem pendidikan yang diberlakukan," kata Condroyono. (WKM)

Belajar Yang Menyenangkan

Filed under: Pendidikan

   kiat_kiat belajar agar g" boring oke?

    moga co2k banget buat kamu 

   1. Sambil dengerin musik! Tp musiknya jgn musik yg ad lyricnya, aliaz u hrs dengerin music instrumen / classic… Mengapa?? Cz klo qt dengerin musik yg berlyric mk otak kanan qt bekerja 2 x, yaitu utk belajar dan dengerin lyricnya. Tp klo musik instrumen aj, mk music itu diserap oleh otak kiri. So,, otak kanan dan otak kiri sama2 bekerja n pelajaran jd cpet masuk!
Oh ya,pernah liat di Lomba Karya Tulis ilmiah nih, klo belajar sambil dengerin music classic (mozard) bs menambah IQ qt 6 point (klo g salah)!! Walaupun itu cuman bertahan beberapa menit. Kan lumayan tuh dalam waktu singkat qt bs belajar maksimal.

2. Klo ud jenuh belajar jgn diterusin! Misalnya Qt ud ngantuk atau ud merasa jenuh, jgn diterusin belajarnya cz ntar g maksimal n waktu terbuang percuma. Lebih baik u istirahat sebentar / tidur sebentar, bwt pikiranmu fresh lagi! Nah, klo ud istirahat, otakmu bs dgn baik mencerna pelajaran.

3. Waktu yg plg baik bwt belajar?? Pagi hari abis bangun tidur! Cz otak kamu tuh lagi jernih2nya, ditambah lagi udara pagi yg sejuk…

 

Meningkatkan Kwalitas Keimanan

Filed under: sastra, Aqidah

      

Bagaimana memahami keberadaan Allah?

Tumbuhan, binatang, lautan, gunung-gunung, dan manusia disekitar kita, dan semua jasad renik yang tidak kasat mata – hidup ataupun mati, merupakan bukti nyata adanya Kebijakan Agung yang menciptakannya. Demikian pula dengan kesetimbangan, keteraturan dan penciptaan sempurna yang nampak di seluruh jagat. Semuanya membuktikan keberadaan Pemilik pengetahuan agung, yang menciptakannya dengan sempurna. Pemilik kebijakan dan pengetahuan agung ini adalah Allah.

Sistem-sistem sempurna yang diciptakanNya serta sifat-sifat yang mengagumkan pada setiap mahluk, hidup maupun mati, menimbulkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesempurnaan ini tertulis dalam Al-Qur’an:

Dia menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Tak akan ditemui sedikit cacatpun dari ciptaanNya. Perhatikan berkali-kali - apakah engkau melihat kekurangan padanya? Lalu, perhatikanlah sekali lagi. Matamu akan silau dan lelah! (Surat Al-Mulk: 3-4)

Mengapa kita diciptakan?

Dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan mengapa kita diciptakan:

Aku ciptakan jin dan manusia semata-mata untuk menyembahKu. (Surat Az-Zariyat: 56)

Seperti disebutkan dalam ayat ini, keberadaan manusia di bumi ini semata-mata untuk menjadi hamba Allah, untuk menyembahNya dan untuk memperoleh ridhaNya. Penghambaan manusia kepada Allah merupakan batu ujian selama ia hidup di muka bumi

Bagaimana cara mengenal Allah?

Ciptaan yang sempurna di seluruh jagat raya menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Allah sendiri telah memperkenalkan diriNya kepada kita melalui Al-Qur’an - wahyu yang diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk yang benar bagi kehidupan. Semua sifat-sifat Allah yang mulia disampaikan kepada kita di dalam Al-Qur’an. Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Meliputi seluruh alam, Maha Melihat dan Maha Mendengar atas segala sesuatu. Dia lah Pemilik dan Tuhan satu-satunya atas langit dan bumi dan segala sesuatu di antaranya. Dia lah penguasa seluruh kerajaan langit dan bumi.

Dialah Allah – tiada tuhan selain Dia. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia lah Allah – tiada tuhan selain Dia. . . . MilikNya segala nama-nama yang baik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hasr: 22-24)

 

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer